Dewasa ini kita menginjak
di zaman metropolitan, dimana semua kegiatan ataupun aktivitas yang kita
lakukan dapat ditunjang dengan kemudahan yang kita raih dari suatu kecanggihan
teknologi. Pada prinsipnya, teknologi adalah hasil ciptaan teknis manusia yang
bertujuan untuk
memudahkan dan membantu kita dalam
melakukan suatu kegiatan.
Dari hasil teknologi itu
sendiri telah melahirkan produk-produk yang memungkinkan semua orang dapat
mengakses dan menjadikannya suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, untuk jaman
sekarang misalnya smartphone BlackBerry. Sebagaian besar masyarakat kita
sekarang ini telah menggunakan BlackBerry untuk menunjang aktivitas keseharian
mereka. Mengapa Blackberry ini cepat sekali menguasai pasar ? Karena BlackBerry
memiliki jaringan tersendiri yang hanya dimiliki oleh RIM (Research In Motion) yang mengoneksikan seluruh BlackBerry yang
tersebar di penjuru dunia. Dengan adanya jaringan unggulan ini, fasilitas kemudahan yang
ditawarkan berupa BlackBerry Messenger (BBM),
aplikasi pesan instan yang hanya menghubungkan ke sesama perangkat BlackBerry. Aplikasi ini menggunakan PIN BlackBerry yang ada untuk setiap
BlackBerry,
untuk mengirim pesan dari satu perangkat ke perangkat yang lain. Tetapi
sayangnya, dengan
lahirnya produk smartphone ini
dapat mempengaruhi kehidupan psikis anak dan remaja sekarang.
Dampak Positif dan Negatif
Menengok kehidupan remaja
saat ini, dikatakan belum gaul atau mereka biasa mengatakan "cupu" jika
belum menggunakan smartphone BlackBerry. Mereka beranggapan
bahwa apa yang mereka pakai dan miliki menandakan eksistensi suatu produk yang
sedang diciptakan untuk dikonsumsi masyarakat saat itu.
Dari kacamata
masing-masing pribadi pasti dapat memetik sisi positif dan sisi negatif dari
penggunaan produk Blackberry ini. Dilihat dari sisi positif, memang
dengan adanya smartphone Blackberry
ini semakin dapat memudahkan komunikasi. Dan dengan BlackBerry dapat memungkinkan
seseorang memperoleh dan berbagi informasi lebih cepat melalui Broadcast BBM, pengiriman pesan yang biasanya berisi informasi ke
semua kontak BBM secara bersamaan. Selain itu, dapat juga memberi
kemudahan bagi mereka yang mempunyai tingkat mobilitas tinggi, yang sering
berkirim pesan melalui e-mail tidak
perlu lagi mendatangi warnet (warung internet), tinggal menggunakan BlackBerry
maka semua akan dapat teratasi.
Sedangkan dilihat dari sisi negatif,
banyak anak-anak kita dan kaum remaja yang kurang dapat menggunakan fasilitas
tersebut secara lebih efisien dan bijaksana. Menjadi suatu kebiasaan buruk jika
tidak segera diarahkan ke hal yang lebih baik. Apabila waktu yang seharusnya
digunakan untuk belajar, tetapi jari tangan sibuk mengetik BBM maka tidak akan
mendapatkan hasil dari belajar tersebut. Pada saat berbicara tatap muka dengan
orang lain, mata tidak terfokus pada lawan bicara melainkan
mengarah ke layar BlackBerry dan menyibukan jari jemari membalas BBM atau berselancar
di dunia maya. Seorang pelajar jika sedang menempuh pelajaran di kelas dan
mulai bosan dengan keadaan belajar saat itu, maka ia segera mengeluarkan BlackBerry dari dalam kantongnya
dan mulai menyibukan diri membalas BBM, membuka akun pertemanan jejaring sosial
atau membuka aplikasi terbaru yang telah diunduh.
Ketika
dunia teknologi yang semakin canggih dan dengan cepat mewabah hingga ke segala
usia, mulai dari anak kecil hingga orang tua maka pergerakan informasi dan
komunikasi yang berkembang dengan pesat dapat segera ditangkap melalui
BlackBerry. Tetapi sangat ironi apabila kita sering mendapati seorang anak
kecil yang masih di bawah umur dapat mengoperasikan sebuah smartphone
BlackBerry yang notabene sebagai fasilitas yang diberikan orangtua.
Seperti
yang sering terlihat di sebuah Sekolah Dasar yang cukup mumpuni, dimana murid-muridnya
sebagian besar berasal dari kalangan orang mampu, dengan gesitnya memainkan
jari-jari tangan di atas keypad BlackBerry mereka sambil menunggu jemputan
sekolah. Hal semacam ini sebenarnya bisa dikatakan wajar, asalkan masih dalam
pengawasan dan dengan batasan-batasan tertentu agar si anak tidak terlalu jauh
mengenal dunia teknologi yang pada dasarnya belum cukup umur untuk menerima.
Tetapi di sisi lain, sebagai orangtua yang sayang kepada anaknya, tidak ingin
melihat anaknya sedih karena tidak dapat mengikuti tren teman-teman di
sekolahnya, maka mereka mencoba mengikuti keinginan anak. Dengan dalih ingin semakin
mempermudah komunikasi antara anak dan orangtua, anak dengan teman-temannya dan
yang pasti anak dengan dunianya sendiri, mereka meluluskan keinginan sang anak.
Kebanyakan
orangtua mengambil keputusan ini tanpa mempertimbangkan hal baik atau buruk
yang nantinya akan terjadi pada diri si anak di kemudian hari, seperti
menyalahgunakan waktu yang seharusnya untuk belajar tetapi sibuk dengan
BlackBerry mereka. Fenomena semacam ini sering kita temukan di sekitar kita. Hal ini dapat berimbas pada nilai-nilai sosial dan kesopanan
di kehidupan
kemasyarakatan kita yang telah mulai luntur digerus zaman.
Dampak Terhadap Nilai Sosial
Itu
jika dilihat dari usia anak sekolah dasar, lalu bagaimana dengan anak-anak yang
sudah duduk di bangku SMP maupun SMA, pasti mereka lebih susah dikendalikan
dalam hal perilaku menggunakan smartphone BlackBerry ditambah saat usia
tersebut mereka sedang dalam pencarian jati diri. Secara psikologis, tingkat
emosional mereka masih tinggi dan apabila mereka mendapat pengarahan yang sebenarnya
dimaksudkan agar melangkah ke jalur yang lebih baik, justru mereka menangkapnya
bukan dengan mengevaluasi diri tetapi dengan emosi dan keegoisan serta tetap
bersikukuh pada prinsip mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak salah.
Pada
kondisi yang sebenarnya, anak maupun remaja lebih memilih cara berkomunikasi
yang praktis, dalam konteks ini menggunakan BBM. Di lingkungan sekolah, apabila
mereka telah terbiasa menggunakan BlckkBerry sebagai “teman” saat sendiri, saat
di tempat sepi dan saat tidak ada orang yang dapat diajak berbagi cerita, maka
mereka akan lebih intens berkirim pesan dengan BBM dan akibatnya mereka jarang
berkumpul dengan teman-teman sebayanya, sehingga dapat menjauhkan seseorang
yang dekat dan mendekatkan seseorang yang jauh. Tetapi apabila, seorang anak
sedang berada di tempat yang ramai dan ternyata mereka mendapatkan
ketidaknyamanan pada tempat tersebut, dengan sigapnya pasti akan menyibukkan
diri dengan BlackBerry. Hal ini dapat menjadikan diri anak tersebut
“diperbudak” oleh adanya BlackBerry, sebab mereka lebih mengenal dunia maya dan
mulai kurang rasa kepekaannya dengan dunia nyata.
Jika
suatu hari seorang anak pergi ke suatu tempat, entah ke sekolah maupun ke
tempat yang lain dan lupa membawa gadget
BlackBerry, mereka akan sangat panik karena segala sesuatu yang dirasa penting
itu ada di dalam sebuah smartphone BlackBerry tersebut.
Lalu
bagaimana dengan dampak lain yang mungkin dapat terjadi pada diri sang anak yang berhubungan terhadap kesehatan mereka ?
Ya, selain berdampak pada kondisi psikologis anak ternyata BlackBerry juga
dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan mereka. Seperti yang terjadi apabila
mereka sedang tidur yang seharusnya membutuhkan waktu 8 jam untuk mencapai
tidur yang berkualitas, tetapi sebelum memejamkan mata mereka sempat chatting BBM, membuka internet dan
membuka aplikasi-aplikasi terbaru dan akibatnya waktu tidur menjadi berkurang
sehingga tidak mencapai tidur yang berkualitas.
Ditengok
dari segi finansial, penggunaan BlackBerry di kalangan anak dan remaja kita
saat ini juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk mendapat layanan dan
fasilitas full service, harus
mengeluarkan kocek sebesar Rp 100.000,00 untuk setiap bulan, dimana nominal
sebesar itu nantinya akan mendapat fasilitas untuk BBM, browsing, jejaring sosial (Facebook, Twitter), push email dan berbagai layanan lain yang ditawarkan oleh suatu
operator. Akan tetapi, sekarang ini banyak operator yang “perang” tarif, dimana
mereka mampu menyediakan harga pulsa yang lebih terjangkau dan beberapa promo
menarik yang memang sengaja membidik kalangan anak dan remaja. Walaupun pada
praktiknya seperti ini, tetap saja akan berdampak pada perkembangan diri anak
yang nantinya kurang peka terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
Dalam
hal ini dibutuhkan peran serta orangtua dan masyarakat kita terkait dengan
pengaruh buruk yang didapat anak dan remaja generasi saat ini agar tidak
melampaui batasan-batasan yang telah ada. Memang harus dengan kesabaran dan
pola pikir yang memadai saat berbicara dengan anak dan dapat disesuaikan dengan
zaman agar anak tidak menganggap bahwa orangtua menciptakan peraturan-peraturan
kolot yang terkesan membatasi lingkup pergaulan mereka.
Ada orangtua yang menganggap
keberadaan smartphone BlackBerry ini dapat menunjang proses belajar anak,
karena dapat digunakan untuk menggali informasi maupun data dengan layanan browsing apabila sang anak sedang
mengerjakan tugas-tugas sekolah yang memang memerlukan sambungan internet.
Tetapi tidak sedikit pula, orangtua yang beranggapan bahwa adanya BlackBerry
ini justru menghambat pendidikan sang anak dan mengubah perilakunya menjadi
kurang baik, susah diatur dan hanya membuang-buang waktu karena setiap hari
disibukkan dengan layanan aplikasi dari BlackBerry yang menuntut anak terus
aktif berada di pertemanan dunia maya.
Sebagai masyarakat moderen, kita
harus peka terhadap arus informasi yang datang dengan cepat dan juga harus
dapat memilah informasi mana yang baik dan mana yang buruk. Segala sesuatu yang
buruk pasti dapat dengan mudah dicerna, tetapi sesuatu yang baik belum tentu
dapat cepat diterima. Begitu juga dengan anak dan remaja kita, apabila mereka
terlalu dalam mengenal kehidupan dunia maya, dikhawatirkan akan terjerumus ke
dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Maka, dibutuhkan peran orangtua dan
berbagai pihak lainnya, agar senantiasa memberikan pengawasan dan pengarahan
yang lebih baik terhadap anak dalam mengonsumsi produk-produk teknologi terkini
sehingga dapat menggunakannya dengan lebih bijaksana dan memperoleh manfaat
yang baik, yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Sudah bijaksanakah
kita ?