Sunday, 27 January 2013

BlackBerry versus Psikologi Anak dan Remaja Saat Ini



Dewasa ini kita menginjak di zaman metropolitan, dimana semua kegiatan ataupun aktivitas yang kita lakukan dapat ditunjang dengan kemudahan yang kita raih dari suatu kecanggihan teknologi. Pada prinsipnya, teknologi adalah hasil ciptaan teknis manusia yang bertujuan untuk memudahkan dan membantu  kita dalam melakukan suatu kegiatan.
            Dari hasil teknologi itu sendiri telah melahirkan produk-produk yang memungkinkan semua orang dapat mengakses dan menjadikannya suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, untuk jaman sekarang misalnya smartphone BlackBerry. Sebagaian besar masyarakat kita sekarang ini telah menggunakan BlackBerry untuk menunjang aktivitas keseharian mereka. Mengapa Blackberry ini cepat sekali menguasai pasar ? Karena BlackBerry memiliki jaringan tersendiri yang hanya dimiliki oleh RIM (Research In Motion) yang mengoneksikan seluruh BlackBerry yang tersebar di penjuru dunia. Dengan adanya jaringan unggulan ini, fasilitas kemudahan yang ditawarkan berupa BlackBerry Messenger (BBM), aplikasi pesan instan yang hanya menghubungkan ke sesama perangkat BlackBerry. Aplikasi ini menggunakan PIN BlackBerry yang ada untuk setiap BlackBerry, untuk mengirim pesan dari satu perangkat ke perangkat yang lain. Tetapi sayangnya, dengan lahirnya produk smartphone ini dapat mempengaruhi kehidupan psikis anak dan remaja sekarang.

Dampak Positif dan Negatif
            Menengok kehidupan remaja saat ini, dikatakan belum gaul atau mereka biasa mengatakan "cupu" jika belum menggunakan smartphone BlackBerry. Mereka beranggapan bahwa apa yang mereka pakai dan miliki menandakan eksistensi suatu produk yang sedang diciptakan untuk dikonsumsi masyarakat saat itu.
            Dari kacamata masing-masing pribadi pasti dapat memetik sisi positif dan sisi negatif dari penggunaan produk Blackberry ini. Dilihat dari sisi positif, memang dengan adanya smartphone Blackberry ini semakin dapat memudahkan komunikasi. Dan dengan BlackBerry dapat memungkinkan seseorang memperoleh dan berbagi informasi lebih cepat melalui Broadcast BBM, pengiriman pesan yang biasanya berisi informasi ke semua kontak BBM secara bersamaan. Selain itu, dapat juga memberi kemudahan bagi mereka yang mempunyai tingkat mobilitas tinggi, yang sering berkirim pesan melalui e-mail tidak perlu lagi mendatangi warnet (warung internet), tinggal menggunakan BlackBerry maka semua akan dapat teratasi.
            Sedangkan dilihat dari sisi negatif, banyak anak-anak kita dan kaum remaja yang kurang dapat menggunakan fasilitas tersebut secara lebih efisien dan bijaksana. Menjadi suatu kebiasaan buruk jika tidak segera diarahkan ke hal yang lebih baik. Apabila waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, tetapi jari tangan sibuk mengetik BBM maka tidak akan mendapatkan hasil dari belajar tersebut. Pada saat berbicara tatap muka dengan orang lain, mata tidak terfokus pada lawan bicara melainkan mengarah ke layar BlackBerry dan menyibukan jari jemari membalas BBM atau berselancar di dunia maya. Seorang pelajar jika sedang menempuh pelajaran di kelas dan mulai bosan dengan keadaan belajar saat itu, maka ia segera mengeluarkan BlackBerry dari dalam kantongnya dan mulai menyibukan diri membalas BBM, membuka akun pertemanan jejaring sosial atau membuka aplikasi terbaru yang telah diunduh.
            Ketika dunia teknologi yang semakin canggih dan dengan cepat mewabah hingga ke segala usia, mulai dari anak kecil hingga orang tua maka pergerakan informasi dan komunikasi yang berkembang dengan pesat dapat segera ditangkap melalui BlackBerry. Tetapi sangat ironi apabila kita sering mendapati seorang anak kecil yang masih di bawah umur dapat mengoperasikan sebuah smartphone BlackBerry yang notabene sebagai fasilitas yang diberikan orangtua.
Seperti yang sering terlihat di sebuah Sekolah Dasar yang cukup mumpuni, dimana murid-muridnya sebagian besar berasal dari kalangan orang mampu, dengan gesitnya memainkan jari-jari tangan di atas keypad BlackBerry mereka sambil menunggu jemputan sekolah. Hal semacam ini sebenarnya bisa dikatakan wajar, asalkan masih dalam pengawasan dan dengan batasan-batasan tertentu agar si anak tidak terlalu jauh mengenal dunia teknologi yang pada dasarnya belum cukup umur untuk menerima. Tetapi di sisi lain, sebagai orangtua yang sayang kepada anaknya, tidak ingin melihat anaknya sedih karena tidak dapat mengikuti tren teman-teman di sekolahnya, maka mereka mencoba mengikuti keinginan anak. Dengan dalih ingin semakin mempermudah komunikasi antara anak dan orangtua, anak dengan teman-temannya dan yang pasti anak dengan dunianya sendiri, mereka meluluskan keinginan sang anak.
Kebanyakan orangtua mengambil keputusan ini tanpa mempertimbangkan hal baik atau buruk yang nantinya akan terjadi pada diri si anak di kemudian hari, seperti menyalahgunakan waktu yang seharusnya untuk belajar tetapi sibuk dengan BlackBerry mereka. Fenomena semacam ini sering kita temukan di sekitar kita. Hal ini dapat berimbas pada nilai-nilai sosial dan kesopanan di kehidupan kemasyarakatan kita yang telah mulai luntur digerus zaman.

Dampak Terhadap Nilai Sosial
Itu jika dilihat dari usia anak sekolah dasar, lalu bagaimana dengan anak-anak yang sudah duduk di bangku SMP maupun SMA, pasti mereka lebih susah dikendalikan dalam hal perilaku menggunakan smartphone BlackBerry ditambah saat usia tersebut mereka sedang dalam pencarian jati diri. Secara psikologis, tingkat emosional mereka masih tinggi dan apabila mereka mendapat pengarahan yang sebenarnya dimaksudkan agar melangkah ke jalur yang lebih baik, justru mereka menangkapnya bukan dengan mengevaluasi diri tetapi dengan emosi dan keegoisan serta tetap bersikukuh pada prinsip mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak salah.
Pada kondisi yang sebenarnya, anak maupun remaja lebih memilih cara berkomunikasi yang praktis, dalam konteks ini menggunakan BBM. Di lingkungan sekolah, apabila mereka telah terbiasa menggunakan BlckkBerry sebagai “teman” saat sendiri, saat di tempat sepi dan saat tidak ada orang yang dapat diajak berbagi cerita, maka mereka akan lebih intens berkirim pesan dengan BBM dan akibatnya mereka jarang berkumpul dengan teman-teman sebayanya, sehingga dapat menjauhkan seseorang yang dekat dan mendekatkan seseorang yang jauh. Tetapi apabila, seorang anak sedang berada di tempat yang ramai dan ternyata mereka mendapatkan ketidaknyamanan pada tempat tersebut, dengan sigapnya pasti akan menyibukkan diri dengan BlackBerry. Hal ini dapat menjadikan diri anak tersebut “diperbudak” oleh adanya BlackBerry, sebab mereka lebih mengenal dunia maya dan mulai kurang rasa kepekaannya dengan dunia nyata.
Jika suatu hari seorang anak pergi ke suatu tempat, entah ke sekolah maupun ke tempat yang lain dan lupa membawa gadget BlackBerry, mereka akan sangat panik karena segala sesuatu yang dirasa penting itu ada di dalam sebuah smartphone BlackBerry tersebut.
Lalu bagaimana dengan dampak lain yang mungkin dapat terjadi pada diri sang anak  yang berhubungan terhadap kesehatan mereka ? Ya, selain berdampak pada kondisi psikologis anak ternyata BlackBerry juga dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan mereka. Seperti yang terjadi apabila mereka sedang tidur yang seharusnya membutuhkan waktu 8 jam untuk mencapai tidur yang berkualitas, tetapi sebelum memejamkan mata mereka sempat chatting BBM, membuka internet dan membuka aplikasi-aplikasi terbaru dan akibatnya waktu tidur menjadi berkurang sehingga tidak mencapai tidur yang berkualitas.
Ditengok dari segi finansial, penggunaan BlackBerry di kalangan anak dan remaja kita saat ini juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk mendapat layanan dan fasilitas full service, harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 100.000,00 untuk setiap bulan, dimana nominal sebesar itu nantinya akan mendapat fasilitas untuk BBM, browsing, jejaring sosial (Facebook, Twitter), push email dan berbagai layanan lain yang ditawarkan oleh suatu operator. Akan tetapi, sekarang ini banyak operator yang “perang” tarif, dimana mereka mampu menyediakan harga pulsa yang lebih terjangkau dan beberapa promo menarik yang memang sengaja membidik kalangan anak dan remaja. Walaupun pada praktiknya seperti ini, tetap saja akan berdampak pada perkembangan diri anak yang nantinya kurang peka terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.     
Dalam hal ini dibutuhkan peran serta orangtua dan masyarakat kita terkait dengan pengaruh buruk yang didapat anak dan remaja generasi saat ini agar tidak melampaui batasan-batasan yang telah ada. Memang harus dengan kesabaran dan pola pikir yang memadai saat berbicara dengan anak dan dapat disesuaikan dengan zaman agar anak tidak menganggap bahwa orangtua menciptakan peraturan-peraturan kolot yang terkesan membatasi lingkup pergaulan mereka.
            Ada orangtua yang menganggap keberadaan smartphone BlackBerry ini dapat menunjang proses belajar anak, karena dapat digunakan untuk menggali informasi maupun data dengan layanan browsing apabila sang anak sedang mengerjakan tugas-tugas sekolah yang memang memerlukan sambungan internet. Tetapi tidak sedikit pula, orangtua yang beranggapan bahwa adanya BlackBerry ini justru menghambat pendidikan sang anak dan mengubah perilakunya menjadi kurang baik, susah diatur dan hanya membuang-buang waktu karena setiap hari disibukkan dengan layanan aplikasi dari BlackBerry yang menuntut anak terus aktif berada di pertemanan dunia maya.
            Sebagai masyarakat moderen, kita harus peka terhadap arus informasi yang datang dengan cepat dan juga harus dapat memilah informasi mana yang baik dan mana yang buruk. Segala sesuatu yang buruk pasti dapat dengan mudah dicerna, tetapi sesuatu yang baik belum tentu dapat cepat diterima. Begitu juga dengan anak dan remaja kita, apabila mereka terlalu dalam mengenal kehidupan dunia maya, dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Maka, dibutuhkan peran orangtua dan berbagai pihak lainnya, agar senantiasa memberikan pengawasan dan pengarahan yang lebih baik terhadap anak dalam mengonsumsi produk-produk teknologi terkini sehingga dapat menggunakannya dengan lebih bijaksana dan memperoleh manfaat yang baik, yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Sudah bijaksanakah kita ?

No comments:

Post a Comment